Selasa, 30 November 2010

PESONA KOTA PONTIANAK

Kalimantan Barat dengan luas 146.807 km2 berada di bagian barat Pulau Kalimantan. Lokasinya mudah diakses dari berbagai daerah Indonesia. Apalagi ditunjang oleh berbagai sarana transportasi laut dan udara. Secara spesifik Kalbar berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia Timur (Serawak) sehingga menjadi pintu masuk darat bagi wisatawan mancanegara.

Provinsi Kalimantan Barat beribukota Pontianak ini memiliki potensi obyek wisata yang sangat menarik, unik, bahkan spesifik seperti fenomena alam kulminasi matahari di garis khatulistiwa, keragaman adat dan budaya etnis Dayak, Melayu, China dan lainnya serta panorama alam yang cukup indah.

Keraton Kadariah Pontianak
(Foto By. Teguh Panglima)
Di Kota ini kita bisa mengunjungi Tugu Khatulistiwa sebagai salah satu trademark Kota Pontianak selain sungai dan jembatan Kapuasnya. Tugu ini berada tak jauh dari bantaran Sungai Kapuas, tepatnya di Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara. Jaraknya sekitar 5 km dari pusat kota. Selain itu ke Kampung Dalam Bugis (kini Tanjung Pura), Kecamatan Pontianak Timur, sekitar 100 meter dari Sungai Kapuas Kecil. Di sana terdapat bangunan tua bernilai sejarah yakni Keraton Kadriah. Sekitar 200 meter dari keraton terdapat Masjid Keraton yang kemudian disebut Masjid Jami Pontianak. Masjid ini berdiri dipinggir sungai Kapuas Kecil.


Kapuas River Cruise
(Foto By. Ronny)

Indahnya Sungai Kapuas
(Foto By. Ronny)
Jangan lupa menyusuri Sungai Kapuas. Kita bisa menggunakan biro perjalanan yang menjual paket menyusuri sungai ini atau menyewa perahu bermotor. Sungai Kapuas dengan dua anak sungainya yakni Sungai Kapuas Kecil dan Landak merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.143 Km dan lebarnya 400-700 Meter. Aliran yang dapat dilayari sepanjang 800 Km atau hingga ke Kabupaten Kapuas Hulu. Sungai Kapuas dengan dua anak sungainya memhelah Kota Pontianak menjadi 3 bagian, yakni Pontianak Barat dan Selatan, Pontianak Timur, dan Pontianak Utara. Kebaradaan Sungai ini sangat penting bagi Kalbar sebagai pusat jalur perdagangan, transportasi, dan pariwisata.

RIAM MERASAP SAMBAS

Riam Merasap di Kab. Sambas
(Foto By. Teguh Panglima)
Air Terjun Riam Merasap merupakan potensi wisata alam di daerah perbatasan di Kabupaten Sambas yang masih belum dikelola secara maksimal.

Air Terjun Riam Merasap persisnya terletak di wilayah Kecamatan Sajingan Besar dan berbatasan langsung antara Indonesia dan Malaysia.

Dari pusat kota Sambas menuju lokasi air terjun Riam Merasap berjarak 82 Kilometer (KM). Untuk ke lokasi  bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, sedangkan dari Malaysia untuk menikmati air terjun ini, dari titik nol perbatasan hanya menempuh jarak 10 km.   

Kecamatan Sajingan merupakan wilayah perbatasan Aruk (Indonesia) dan Biawak (Malaysia), maka tidak heran kalau melihat warga jiran sering menikmati kesejukan Air Terjun dua tingkat yang berketinggian 20 meter dengan lebar 8 meter ini.
Setiap hari Minggu pasti ada saja warga Malaysia yang datang ke Air Terjun Riam Merasap, baik dari Biawak, Lunduk dan Sematan.
Riam Merasap di Kab. Sambas
(Foto By. Teguh Panglima)
Banyaknya warga Malaysia yang menikmati air terjun, dikarenakan jarak dari titik nol perbatasan Indonesia dan Malaysia menuju ke lokasi Air Terjun Riam Merasap hanya berjarak 10 km saja, sementara dari jalan raya Sajingan berjalan kaki menuju lokasi air terjun riam merasap hanya berjarak 2 km.

90% masyarakat Kecamatan Sajingan Besar memanfaatkan potensi air terjun tersebut sebagai sarana air bersih sehari-hari, sedangkan 10 persen warga yang tidak mempergunakan air bersih ini dikarenakan tinggalnya jauh dari tepian sungai air terjun Riam Merasap.

Objek Wisata Riam Merasap ini sangat menarik untuk dinikmati. Jika ada yang berminat ke lokasi air terjun Riam Merasap, harus rela menempuh perjalanan 82 KM dengan menggunakan kendaraan dan harus rela berjalan kaki selama 2 KM untuk tiba di lokasi air terjun.

Untuk masuk dan menikmati keindahan air terjun Riam Merasap tidak dipungut bayaran, karena lokasi air terjun yang masih alami ini belum dikelola penuh oleh Pemerintah Kabupaten Sambas. Tetapi, wisatawan harus membawa perbekalan makan dan minum selama menikmati air terjun. Karena di lokasi air terjun ini tidak ada warga atau masyarakat setempat yang berjualan.

Selain memiliki potensi air terjun Riam Merasap, Kecamatan Sajingan juga memiliki objek wisata Air Terjun Riam Naik Kubik dengan ketinggian 8 m, Jarak tempuh dari Kecamatan sajingan 15 km, Air Terjun Riam Pencarek ketinggian 80 m dengan jarak tempuh 17 km dan Air Terjun Riam Cagat berketinggian 100 M dengan jarak tempuh 9 km dengan berjalan kaki menyisir hutan yang masih alami. Selain air terjun, Kecamatan Sajingan juga memiliki Goa Alam Santok.

Kamis, 25 November 2010

TRANSPORTASI

Untuk mengunjungi Kalimantan Barat terdapat beberapa pintu masuk yang dapat dilalui, antara lain :
1.  Bandara Internasional Supadio
2.  Pelabuhan Laut Dwikora
3.  Pintu Lintas Batas Antar Negara yang berbatasan langsung dengan malaysia di Entikong

Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kalimantan Barat

Bandara Supadio (Foto By. Rizwan)
Bandara Internasional Supadio terletak kira-kira 20 menit dari pusat kota Pontianak. PT Angkasa Pura II Mengoperasikan bandara yang dapat menampung lebih dari 1,5 juta penumpang ini.

Ada beberapa transportasi umum yang dapat dipergunakan untuk menuju ke bandara Supadio :
1.  Taksi
2.  Angkutan Umum Bus Travel dan Hotel
3.  Ojek

Beberapa fasilitas dan sarana umum yang tersedia di Bandara Supadio adalah :
~  ATM
~  Wartel
~  Mini market
~  Restoran dan Café
~  Bank
~  Shopping Arcade
~  Lounge
~  Refleksi

Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak

Aktivitas Pelabuhan Dwikora Pontianak
(Foto By. Rizwan)
Pelabuhan Pontianak merupakan Cabang dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia II yang berkedudukan di Jakarta dan merupakan Badan usaha Milik Negara yang didirikan pada tanggal 1 Desember 1992.
Pelabuhan Pontianak Sebagai Pintu Gerbang Perekonomian di Provinsi Kalimantan Barat  merupakan Pelabuhan terbesar di pulau Kalimantan.


Hinterland Pelabuhan Pontianak  adalah Provinsi Kalimantan Barat dengan luas wilayah ± 146.807 Km2, yang terbagi atas 14 Kabupaten dan Kota.

Senja di Pelabuhan Dwikora Pontianak
(Foto By. Ferry Ariesta)
















PPLB Entikong

Entikong memiliki jalur perbatasan darat dengan negara Malaysia khususnya serawak sehingga jalur darat sering disebut jalur sutera karena bisa dilewati langsung oleh bus baik dari Indonesia maupun dari Malaysia tanpa harus menyebari sungai maupun laut,oleh sebab itu banyak TKI yang berasal dari jawa,sumatera menggunakan jalur perbatasan entikong.


Untuk menuju Entikong dari Pontianak dapat ditempuh melalui jalan trans Kalimantan poros selatan sampai kecamatan Tayan kemudian melintas ke Utara melewati kecamatan Batang Tarang, Sosok, Kembayan dan akhirnya masuk ke Entikong melalui jalan trans Kalimantan poros Utara. Jalan trans Kalimantan baik poros selatan maupun utara pada umumnya kondisinya baik.

Jarak dari Pontianak sampai Entikong 310 km dengan waktu tempuh kurang lebih 7 jam.


Selasa, 23 November 2010

ENGGANG GADING

Enggang gading (Rhinoplax vigil) menurutnya adalah fauna yang menjadi maskot Kalimantan Barat. Di antara enggang/burung rangkong, enggang gading adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup bagian dahinya.


Enggang Gading (Foto By. Sugeng Hendratno)

Makanannya buah-buahan terutama buah beringin dan palem, tapi tidak jarang juga makan serangga, tikus, kadal bahkan burung kecil. Pelestarian enggang gading menuntut pelestarian hutan tropika. Burung ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang.

Burung ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang.
Ciri-ciri fisiknya adalah bagian perut, kaki, dan buntut yang berwarna putih. Khusus di bagian buntut, ada garis hitam di ujung-ujung bulunya dan dua bulu buntut lebih panjang dari yang lainnya.
Panjang burung ini sekitar 60 cm, tetapi ditambah panjang bulunya, bisa mencapai hingga 160 cm. Kantung tenggorokan jenis ini berkerut dengan warna biru di burung betina dan merah di burung jantan.

FESTIVAL ROBO-ROBO

Festival Robo-Robo di Kuala Mempawah
(Foto By. Rizwan)
Bagi masyarakat keturunan Bugis di Kalimantan Barat, Rabu minggu terakhir pada bulan Safar, pada kalender Hijriah, merupakan hari yang selalu diperingati dengan sebuah tradisi. Tradisi Robo-robo. Maksud dari kegiatan budaya itu, memperingati kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah. Opu merupakan pendiri Kota Mempawah.

Mempawah merupakan ibu kota Kabupaten Pontianak. Dari Kota Pontianak, perjalanan dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam. Jaraknya sekitar 40 km. Meski agak bergelombang, jalan relatif mulus dan beraspal. Tanah gambut membuat jalan selalu ambles dan retak, terutama pada setiap sambungan jembatan.

Di Kuala Mempawah, suasana sudah terlihat ramai. Jalanan penuh orang. Di sudut kiri dan kanan jalan, orang mendirikan warung kecil. Ada warung makan dan minuman, pakaian, suvenir, dan lainnya. Pendirian warung di Kuala Mempawah, berlangsung setahun sekali. Pas, pelaksanaan ritual Robo-robo.

Kuala Mempawah merupakan pertemuan antara Sungai Mempawah dan Laut Cina Selatan. Tempat ini menjadi pusat dari pelaksanaan kegiatan Robo-robo. Tempat ini dibagi dua. Sisi sebelah kiri menjadi pelabuhan penangkapan ikan, dan sebelah kanan pusat armada Angkatan Laut.

Sebuah perahu warna kuning, terlihat mencolok berada di antara puluhan perahu. Perahu ini bernama Lancang Kuning, yang merupakan perahu Kerajaan Amantubillah Mempawah. Di dalam perahu itu, puluhan orang mengenakan seragam kebesaran kerajaan. Ada warna kuning, merah, hitam dan lainnya. Berbagai simbol dan bendera kerajaan berkibar diterpa angin.

Dari arah laut, nampak sebuah perahu berisi puluhan orang sedang mendekati kuala. Perahu itu diikuti puluhan perahu kecil. Perahu agak besar itu berisi raja Kerajaan Amantubillah, Mempawah, Pangeran Ratu DR. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim. Ia menggunakan perahu Bedar.

Sejenak kemudian, perahu Bedar mendekati perahu warna kuning. Pangeran Pemangku Adat yang berada di perahu Lancang Kuning, segera melakukan ritual Buang-buang.
Perangkat Buang-buang terdiri dari telur ayam, bertih, kemenyan, dan setanggi. Telur ayam diulas atau diusap dengan minyak wangi. Telur melambangkan awal kehidupan. Bertih adalah padi dari beras kuning yang diongseng. Padi melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Kemakmuran di seluruh penjuru angin, air, dan darat.

Setelah Pemangku Adat membacakan doa, semua perangkat Buang-buang dilempar ke laut. Selepas acara Buang-buang, Pemangku Adat mengumandangkan azan dan do’a talak balak.

Buang-buang mempunyai makna, ada keterikatan dan silaturahmi dengan air. Di air ada mahluk dan kehidupan. Ini sangat khas sekali dengan budaya dan tradisi masyarakat Bugis, yang tidak bisa dipisahkan dengan air. Sebagai pelaut, masyarakat Bugis selalu dekat dengan air. Air tak bisa dipisahkan dengan kehidupan orang Bugis. Mereka terkenal sebagai pelaut yang mengarungi berbagai lautan.

Inilah makna dan inti dari Robo-robo. Penyambutan Opu Daeng Menambon, ketika berlayar menuju Kuala Mempawah dari Kerajaan Tayan di Kalbar. Tayan sekarang ini termasuk wilayah Kabupaten Ketapang.

Ketika itu, 1737 Masehi atau 1148 Hijriah, seluruh masyarakat di Mempawah menyambut dengan antusias kedatangan Opu Daeng Menambon. Masyarakat berdiri di sepanjang bantaran sungai Mempawah. Sangking senangnya, Opu Daeng Menambon melemparkan sisa bekalnya berupa ketupat kepada masyarakat.

Nah, sekarang ini, setiap memperingati acara Robo-robo, ketupat merupakan makanan yang harus selalu dihidangkan. Robo-robo merupakan napak tilas Opu Daeng Menambon dan istrinya. Opu keturunan Bugis dan Melayu. Istrinya, Ratu Kesumba, keturunan Dayak, Melayu dan Jawa. Opu punya panglima dari berbagai suku. Patih Kumantar, Panglima Itam dari Dayak. Panglima Amangkuru, Parewang, Sigentas Alam, dari Melayu. Lo Tai Pak, dari etnis Tionghoa. Karaeng Talibe, Matalampang, Bontiak, dari Bugis. Panglima Daeng Siti Fatimah, anak Sultan Hasanudin, meninggal dan dimakamkan di Tanjung Matoa, Kalbar.

Makam Opu Daeng Menambon terletak di atas bukit. Jauhnya sekitar 8 kilometer dari Mempawah. Makam itu dijaga oleh juru kunci makam. Ia seorang Mukti, atau orang yang ahli dalam masalah agama. Namanya, Gusti Amar. Juru kunci dipilih karena garis keturunan.

Makam terletak di atas bukit. Dari bawah menuju puncak bukit, melalui tangga semen sebanyak 256 undak. Ada mitos mengatakan, bila orang menghitungnya dari bawah, jumlahnya tidak akan sama setiap orang.

Selesai ritual Buang-buang, perahu Bedar dan Lancang Kuning segera menyusuri Sungai Mempawah, menuju tempat berlangsungnya upacara. Di panggung kegiatan, puluhan pejabat dan undangan sudah hadir. Ribuan masyarakat dengan sabar berdiri di sisi kiri dan kanan sungai. Mereka dengan antusias menunggu pelaksanaan kegiatan, dan perlombaan perahu yang bakal dilaksanakan, selepas upacara selesai.

Selepas kegiatan seremonial, kegiatan para pejabat dan undangan dilanjutkan di Istana Amantubillah. Bangunan Istana Amantubillah mempunyai karakteristik khas sebagai bangunan Melayu. Seluruhnya dari kayu belian atau kayu besi. Ini jenis kayu paling kuat dan keras dari Kalimantan. Bangunan dari kayu belian sanggup bertahan hingga ratusan tahun lamanya.

Seluruh bangunan istana dicat dengan warna biru muda. Di sebelah kiri bangunan utama, ada ruang untuk menyimpang peralatan musik, sejenis gamelan. Ada gong, kimung, dan lainnya. Seluruh peralatan ini, merupakan persembahan dan oleh-oleh dari kerajaan Jawa, ratusan tahun silam. Dua buah meriam tergeletak di sisi kiri dan kanan halaman istana.

Istana Amantubillah mempunyai lambang ayam jantan dan buaya. Ayam warna hitam dan putih. Ayam melambangkan kejantanan dan keberanian. Hitam melambangkan kejahatan, putih kebaikan. Artinya, kehidupan jangan terlalu memandang duniawi. Buaya melambangkan keperkasaan, kekuatan, dan keperkasaan.

Sekarang ini, mereka yang memegang tampuk dan kerabat istana, merupakan generasi ke 13 dari Opu Daeng Menambon. Ada hirarki dan struktur di Istana Amantubillah. Masing-masing memiliki tugas tersendiri.

Jabatan tertinggi dipegang Pangeran Ratu, berperan dalam urusan kenegaraan. Tugas ini dipegang oleh Mardan Adijaya. Pangeran Pemangku Adat, mengurusi masalah adat, dipegang Gusti Zulkarnaen. Pangeran Laksamana, berhubungan dengan kelaskaran, prajurit atau massa, dipegang Gusti Heri Ansari. Pangeran Bendahara, berhubungan dengan managerial dan urusan rumah tangga Istana, dipegang oleh Utin Sri Beta Candramidi.

Penunjukkan jabatan berdasarkan pada aura kepemimpinan, kecakapan pada diri orang yang menjadi anak dari para pewaris istana. Penunjukkan diputuskan melalui rapat Majelis Amantubillah, dilihat dari keturunan terdekat dengan keluarga sebelumnya.

Siang itu, seluruh undangan dari berbagai kerajaan di Nusantara hadir. Ada utusan dari Kerajaan Sambas, Sintang, Landak, Sekadau, Tayan, Kubu, Ketapang, Solo, dan Kanoman. Tamu dijamu di Istana Amantubillah dengan saprahan.
Tradisi Makan Saprahan (Foto By. Bearing)
Hidangan makanan Saprahan dijaga rasa dan keasliannya. Endun, juru masak istana mengemukakan, dalam saprahan menunya khas. Antara lain, udang sere, ikan pindang, ayam opor, osengan, dan sop.

Minumannya, air serbet, terbuat dari serai cengkeh, kayu manis dan cengkeh. Minuman ini berfungsi mengembalikan kesehatan tubuh. Kue terdiri dari bingka labu kuning, kue jorong, tepung beras dibungkus daun pandang wangi. Makanan yang tak boleh diubah, ayam masak putih dan udang sere. Kue jorong tak boleh tertinggal. Setiap tahun harus ada.

Dengan melaksanakan ritual Robo-robo setiap tahun, para kerabat Istana Amantubillah, merasa bisa menjaga dan meneruskan puak Opu Daeng Menambon. Selain itu, menghormati dan menjaga tradisi warisan turun-temurun, sehingga tetap eksis.□

TUGU KHATULISTIWA

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.

Sebagai Sarana Pembelajaran & Wisata
(Foto By. Rizwan)
Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak, sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat didalam gedung.
 
Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa : Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :
a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.
c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.
d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
 
Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.

Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter.
Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.
Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi.

Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur, sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.

Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.

Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.
Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September, Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan.

Sumber :
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (http://id.wikipedia.org/wiki/Tugu_Khatulistiwa)

Minggu, 21 November 2010

TAMAN ALUN KAPUAS

Cocok Untuk Tempat Bersantai
Bersama Keluarga & Teman
(Foto By. Ferry Ariesta)
Mengunjungi Kota Pontianak tentu belum lengkap bila belum datang ke Taman Alun-alun Kapuas. Meskipun mal, kafe, dan berbagai pusat hiburan lainnya menjamur di Kota Pontianak, tingkat kunjungan wisatawan ke Taman Alun-alun Kapuas tidak menurun. Bahkan, setelah direnovasi secara besar-besaran pada tahun 1999, tingkat kunjungan wisatawan ke taman yang berada di dekat kantor walikota ini kian menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu.

Lokasinya yang strategis dan berada di pusat Kota Pontianak menjadikan taman ini sebagai salah satu tempat rekreasi favorit bagi masyarakat kota untuk melepas penat sehabis bekerja seharian atau sekadar untuk mencari inspirasi.

Taman rekreasi ini terletak di Jalan Rahadi Usman, tepatnya di depan Kantor Walikota Pontianak. Taman Alun Kapuas merupakan tempat yang indah dan nyaman untuk bersantai sambil menikmati pemandangan Sungai Kapuas dengan aktivitasnya. Taman ini dibuka setiap hari mulai dari tengah hari hingga larut malam.

Pontianak Water Front City
(Foto By. Teguh Panglima)
Sebagaimana kota yang berada dekat dengan sungai yang merupakan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, Fery merupakan alat angkutan yang menjembatani Pusat Kota dengan pinggiran Sungai Siantan dan Kampung Beting. Terdapat juga Jembatan Kayu yang dapat digunakan untuk mengitari dan melihat-lihat Kota.




Keistimewaan

Pada sore hari, sambil berdiri di tepi pagar taman, pengunjung dapat menikmati keindahan Sungai Kapuas dan lalu lalang sampan yang menyeberangkan penumpang. Pengunjung juga dapat menikmati eksotisme kawasan ini sambil duduk-duduk di tangga-tangga yang terdapat di tepian sungai (waterfront) dengan mencelupkan kaki ke Sungai Kapuas. Suasana lebih sempurna jika dilakukan bersama keluarga atau sahabat sambil minum teh atau kopi. Akan lebih seru lagi bila pengunjung menikmati keindahan kawasan ini sambil makan bakso, kacang rebus, sate, jagung bakar/rebus, dan makanan ringan lainnya yang banyak dijajakan pedagang di sepanjang jalan di kawasan tersebut.

Pada malam hari, apalagi di akhir pekan atau di waktu-waktu liburan lainnya, pengunjung taman ini bertambah banyak. Sambil duduk lesehan berkelompok, pengunjung dapat menikmati pesona kawasan ini, melihat lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah penduduk di seberang sungai yang memancarkan sinar terang atau lampu-lampu motor air yang melintasi sungai.

Suasana malam kian hidup dan romantis dengan hadirnya pengamen yang membawakan lagu-lagu yang sedang hit dengan diiringi permainan gitar yang memukau atau gesekan biola yang mendayu-dayu. Pengunjung dapat meminta mereka untuk menyanyikan lagu-lagu kesukaan dengan memberikan tips sekedarnya.

Bila bosan, pengunjung dapat menikmati sisi lain taman dengan menyewa motor air untuk mengelilingi kawasan taman tersebut atau mencoba beberapa permainan ketangkasan yang memberikan sebungkus rokok atau sebotol sirup sebagai hadiahnya.

Pada hari-hari tertentu diadakan agenda wisata rutin, seperti festival layang-layang, pameran lukisan, pameran tanaman hias, panggung hiburan, dan pasar murah.

Lokasi
Taman Alun-alun Kapuas terletak di Jalan Rahardi Oesman, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Akses
Taman Alun-alun Kapuas terletak di pusat Kota Pontianak dan dilalui oleh trayek angkutan kota, sehingga pengunjung dapat mengaksesnya dengan mudah dari segala penjuru Kota Pontianak. Selain dengan angkutan kota, pengunjung juga dapat mengakses taman tersebut dengan naik taksi.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di sekitar kawasan Taman Alun-alun Kapuas terdapat berbagai fasilitas, seperti masjid, ATM, bank, taman parkir, arena bermain anak-anak, persewaan motor air, pusat perbelanjaan, restoran, warung makan, kantin, pedagang kaki lima, sentra oleh-oleh dan cenderamata, warung internet, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, serta wisma dan hotel dengan berbagai tipe.

PASIR PANJANG SINGKAWANG


Pasir Panjang Singkawang (Foto By. Rizwan)
 Kota Singkawang dikenal sebagai Kota Amoy dan China Town-nya Kalimantan Barat, karena mayoritas penduduknya (sekitar 70%) merupakan etnis Tionghoa. Mengunjungi Provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia ini, tentu belum lengkap bila belum mengunjungi Pantai Pasir Panjang.
Pantai yang menjadi ikon pariwisata Kota Singkawang dan salah satu objek wisata andalan Provinsi Kalimantan Barat ini telah dikembangkan menjadi sebuah paket wisata terpadu bernama Taman Pasir Panjang Indah (TPPI). Dinamakan dengan Pantai Pasir Panjang karena pantainya membentang panjang melengkungi laut lepas.

Cocok Untuk Berlibur Bersama Keluarga (Foto By. Rizwan)
KEISTIMEWAAN

Sunset di Pasir Panjang (Foto By. Drs. Iskandar)
Dari bibir pantai, pengunjung dapat menikmati panorama laut biru berlatar kaki langit yang juga biru. Samar-samar di kejauhan membias hijau Pulau Lemukutan, Pulau Kabung, dan Pulau Randayan yang dipagari perairan Laut Natuna. Hamparan pasir pantainya yang luas dan bersih menjadikan kawasan ini nyaman digunakan untuk berjemur atau melakukan aktivitas olahraga, seperti voli pantai dan sepakbola pantai.

Air lautnya yang jernih dan bersih sangat mendukung aktivitas pengunjung yang ingin berenang atau menyelam. Selain itu, ombaknya relatif besar dan menjadi rumah bagi banyak ikan, sehingga tepat sekali digunakan sebagai arena berselancar dan area memancing.

 Suasana kawasan ini kian eksklusif menjelang detik-detik terbenamnya matahari (sunset) di balik pulau-pulau yang terdapat di sekitar kawasan pantai ini. Pengunjung dapat menikmatinya dari pinggir pantai atau dari pondok-pondok wisata yang banyak terdapat di kawasan tersebut.

Bila bosan di pantai, pengunjung dapat melihat-lihat kehidupan masyarakat kampung nelayan yang tidak terlalu jauh dari lokasi pantai, atau bersantai di shelter-shelter yang terdapat di Semenanjung Cinta.

LOKASI

Pantai Pasir Panjang terletak di Kecamatan Tujuh Belas, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

AKSES

Kota Singkawang berjarak sekitar 142 kilometer dari Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, pengunjung dapat naik taksi, travel, atau bus sampai Kota Singkawang. Dari pusat Kota Singkawang, Pantai Pasir Panjang berjarak sekitar 17 kilometer lagi. Pengunjung dapat mengaksesnya dengan menggunakan taksi, bus, atau minibus.

HARGA TIKET
Pengunjung dipungut biaya sebesar Rp 10.000,- per orang.

AKOMODASI DAN FASILITAS LAINNYA

Di kawasan Pantai Pasir Panjang terdapat pusat informasi pariwisata, diskotik, persewaan speed boat, sepeda air, darmoling, gokart, shelter-shelter, pondok wisata, dan toko suvenir. Pengunjung yang tidak terbiasa berenang di pantai dapat berenang di kolam renang yang tersedia, sedangkan yang tidak suka berenang atau pun berjemur dapat mengelilingi pantai dengan naik banana boat. Pengunjung yang membawa anak-anaknya tetap bisa bersenang-senang karena di kawasan ini tersedia arena bermain anak-anak.

Pengunjung tidak bakalan kesulitan mencari makanan karena di kawasan ini terdapat restoran, kafe, warung makan, dan pedagang asongan. Begitu juga yang ingin menginap, tidak perlu repot membawa tenda atau sleeping bag karena di kawasan ini tersedia wisma dan hotel dengan berbagai tipe.

Sumber : Wisata Melayu
Lokasi : Kota Singkawang

Jumat, 19 November 2010

SINKA ISLAND PARK



Sinka Island (Foto By. Ferry Ariesta)
Salah satu tujuan wisata baru di Singkawang terletak di kawasan  wisata Teluk Karang/Teluk Ma'jantuh. Terletak sebelah selatan kota Singkawang 8 km sebelum memasuki kota Singkawang. Dari pinggir jalan raya Pontianak - Singkawang berjarak 3 km.
Merupakan objek wisata masa depan yang menawarkan fasilitas hiburan modern dan alami, kawasan wisata tepi pantai ini menyajikan pemandangan pantai dan hiburan lainnya untuk keluarga yang ditopang dengan berbagai fasilitasnya seperti delman maupun kuda bagi pengunjung untuk disewa untuk mengelilingi taman rekreasi ini. Selain itu pengelola menyediakan  kolam renang, canteen dan lainnya.
Keunikan taman rekreasi ini terletak di pinggir pantai dan menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah, taman rekreasi ini juga memiliki jembatan yang dibangun menuju pulau Simping.
Salah satu fasilitas unggulan adalah Sinka Zoo terletak di sebelah kawasan  Sinka Island Park, tepatnya sebelah selatan dengan jarak 500 meter setelah memasuki Sinka Island Park.

Sinka Island (Foto By. Ferry Ariesta)

Keunikan kebun binatang ini terletak diberbagai penjuru mengelilingi gunung dan nampak keindahan laut dari atas gunung tersebut yang menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah, taman rekreasi ini juga memiliki mobil pembawa wisata untuk mengelilingi gunung.

Sinka Island (Foto By. Ferry Ariesta)